Minggu, 29 Oktober 2017

Indonesia - Musisi Genre Reggae Metal, Terobosan Baru

Tags

Bayu Setiaawan (Rambut Gimbal)

Sebagai orang Minang (Kota Padang,Sumatra Barat) Bayu Setiawan (44) tidak ingin menjadi pengekor orang lain dalam berkarya. Ia ingin membuat sesuatu yang revolusioner. Beranjak dari semangat itu, ia membuat ROOTS, grup musik (band) beraliran reggae metal atau metal reggae.

Bayu membuat grup musik reggae metal setelah keluar dari Gangstarastra, band reggae yang dianggapnya memainkan reggae roots. Ia keluar karena ingin memasukkan unsur musik lain ke dalam musik Gangstarasta alias memainkan reggae modern, sementara teman-temannya tidak setuju. Padahal, ia sudah jenuh dengan reggae roots di Indonesia karena pengetahuannya tentang perkembangan reggae di dunia. Ia tahu bahwa grup-grup musik reggae di luar negeri sudah memasukkan unsur musik lain ke dalam musik reggae.

“Di luar negeri, reggae telah berevolusi. Di luar negeri, band reggae sudah memasukkan unsur musik apa saja ke dalam lagunya. Sepuluh tahun terakhir sudah banyak perubahan musik renggae di dunia. Sementara itu, di Indonesia, band-band reggaenya masih cari aman dengan memainkan reggae roots,” ujar Bayu di Bukittinggi, Minggu (9/7).

Reggae murni atau reggae awal atau reggae roots yang dimaksud Bayu adalah reggae seperti yang dimainkan Bob Marley. Setelah era Bob Marley, kata Bayu, reggae berkembang menjadi dub reggae dan ragga muffin.

 Bayu Reggae Metal 

Reggae metal yang dimainkan ROOTS, kata Bayu, termasuk ke dalam ragga muffin. Meski lagu-lagu ROOTS terdengar seperti lagu rap, Bayu mengklaim lagunya bukan rap, melainkan ragga muffin.

“Perbedaan ragga muffin dengan rap adalah bahwa ragga muffin masih ada unsur menyanyi, tetapi cengkok vokalnya Jamaica. Salah satu musisi reggae Indonesia yang menyanyi dengan cara ragga muffin adalah Ras Muhammad, yang kiblatnya Damian Marley. Di Jamaica dan Eropa, band-band reggae sudah membuat lagu dengan cara ragga muffin, bentuk nyanyian dan musiknya lebih upbeat,” tutur pria kelahiran Nagari Koto Gadang, Bukittinggi, 12 Juli 1973 itu.

Mengenai reggae metal, Bayu mengklaim ROOTS sebagai satu-satunya grup musik Indonesia yang memainkan reggae metal. Bahkan, Bayu  mengklaim ROOTS sebagai satu-satunya grup musik reggae metal di wilayah Asia Pasitifk.

“Sangat sedikit band yang memainkan reggae metal, antara lain, Skindred di Inggris dan 311 di Amerika Serikat,” ucap berambut gimbal dengan panjang sampai ke pinggang itu.

Walau beraliran reggae metal, ROOTS dibuat bukan karena terinspirasi grup musik reggae metal, tetapi terpengaruh grup musik punk hardcore, yakni Bad Brains, grup musik Jamaica yang berkiprah di New York. Bagi Bayu, secara silsilah musik, punk hardcore adalah genre musik beraliran reggae crossover.

Grup musik beraliran reggae crossover yang kali pertama didengarnya adalah The Police. Dari grup musik itulah ia kali pertama mendengar reggae. Jadi, ia kali pertama mendengar reggae bukan dari Bob Marley.

“The Police saja sudah memainkan reggae crossover dari 1979 sampai 1980. Karena itu, band reggae lokal Indonesia mundur secara musikalitas karena masih memainkan reggae roots atau reggae murni. Jadi, reggae Indonesia mundur dua puluh tahun ke belakang,” kata pria berdarah campuran Brasil dan Minang itu. Ayahnya adalah seorang Brasil, sedangkan ibunya anak Nagari Koto Gadang dari suku Guci.

Sementara itu, unsur metal pada ROOTS dipengaruhi oleh KORN, Sepultura, dan Deftones. Bayu menilai tiga band metal itu memainkan middle beat yang sama dengan beat-beat reggae masa kini.

Saat ditanya apakah ROOTS cenderung metal atau reggae secara musikalitas, Bayu menjawab, penilaian itu ia kembalikan kepada pendengar lagunya.

“Saya hanya mengambil ideologi reggae. Pada lagu ROOTS, saya hanya bisa menampilkan gaya vokal reggae dengan kemasan metal. Dengan itu saja, sudah bisa dikatakan reggae metal atau metal reggae. Sound reggae metal agak berbeda, tetapi beat-beat-nya, seperti ragga muffin dan reggae dancehall sudah mewakili reggae dalam musik reggae metal ala ROOTS,” tutur Bayu.

Perjalanan ROOTS mengenalkan reggae metal di Indonesia tidak mulus. Bayu mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan ketika kali pertama membawakan lagu reggae metal di atas panggung. Ia dilempar air kencing ketika membawakan lagunya pada acara komunitas reggae pada 2010. Ia dianggap menyesatkan dan merusak wacana reggae yang berkembang selama ini di Indonesia. Ia dianggap melakukan “bidah” dalam dunia reggae, dianggap menistakan genre reggae dari pakem aslinya.
Pada akhirnya musiknya bisa diterima setelah pendengarnya memperoleh “hidayah”. Hal itu karena ia terus bergerilya memainkan musiknya dari pentas seni (pensi) ke pensi di Jakarta dan Bandung sejak 2009 hingga kini.

Berbeda dengan komunitas reggae, komunitas metal menerima ROOTS tanpa ada penolakan. Menurut Bayu, komunitas metal berpikiran terbuka dalam menerima musik baru.

 Sejarah ROOTS 

Bayu mendirikan ROOTS pada 2009 di Bandung. Ia hanya seorang diri mendirikan ROOTS. Ia menciptakan semua lagu dan aransemen lagu dalam band itu. Setelah aransemen lagu selesai dibuat, ia memanggil satu per satu personil untuk memberitahukan kunci lagunya dan memainkan musiknya. Dengan demikian, pada awalnya, semua personel ROOTS adalah pemain tambahan, kecuali Bayu. Pada tahun ini, ROOTS sudah punya personel tetap, yakni Bayu (vokal dan gitar), Dikok (penabuh drum), Tedhy (pemain bass), dan Abim (gitaris). Kini, grup musik ini bermarkas di Kompleks Taman Holis Indah Cigondewah, Bandung.

Pada Februari 2012, ROOTS membuat album kecil dengan judul “Faith”. Album ini berisi empat lagu, yakni  Back to da roots, Faith, Movin, Rebelution. Lagu itu ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Khusus untuk Rebelution, ada beberapa bagian lagu yang pakai bahasa Minang.

Album “Faith” dicetak dengan format DCD sebanyak 200 keping yang dijual di komunitas-komunitas metal. Bayu menjelaskan, album itu dicetak terbatas karena musik indie lebih sering diputar secara digital ketimbang dari kaset, apalagi pada zaman serba digital seperti kini.

Lalu, pada 2017, ROOTS mengeluarkan lagu tunggal berjudul Manusia Beringas.

Pada tahun ini, Bayu berencana membuat minialbum ROOTS dengan format DVD. Album tersebut akan berisi lima lagu pada tahun ini dengan format DVD.

 Karier Musik 

Bayu mulai main band sejak SMP. Ia sempat bersekolah di SMP 2 Padang. Pada kelas dua, ia pindah ke SMP Hang Tuah II, Seskoal Cipulir Kebayoran Lama, Jakarta, karena mengikuti orang tuanya. Ia tetap bermain band saat SMA di Lake Tunggeranong College di Canberra, Australia, pada 1990.

Setelah tamat SMA, Bayu melanjutkan kuliah di Negeri Kanguru itu sambil tetap bermain band. Di sana, ia kuliah S-1 pada jurusan Broadcast di KvB College Visual of Communication, Sydney pada 1994—1996. Setelah wisuda, ia kuliah pada D-1 jurusan Jazz Performance di Conservatorium of Musik, Sydney, selama setahun. Saat akan melanjutkan kuliah S-2 di Australia, ia harus pulang ke Indonesia karena ibunya sakit strok, yakni pada 1997. Pada tahun itulah ia mendirikan REACTION di Jakarta.

“Saya membuat REACTION, grup musik beraliran nu metal, aliran metal yang merupakan transisi dari musik grunge, seperti KORN, Limp Bizkit, dan Deftones. REACTION sempat mengeluarkan dua album kaset tape sebelum bubar pada 2000. REACTION bubar karena tiap-tiap personelnya sibuk dengan pekerjaan masing-masing,” tuturnya.

Setelah REACTION bubar, Bayu belum lagi membuat band. Ia lalu kuliah D1 di Singapura dengan jurusan Sound Design di School of Audio Engineer selama setahun, yakni pada 2001—2002. Sebelum pulang ke Indonesia pada 2013, pada awal tahun itu ia sempat menjadi pekerja lepas sebagai sound man di rumah opera di Singapura.

Setelah tamat kuliah di Singapura, Bayu pulang ke Indonesia. Lalu, pada 2004, ia bergabung dengan Gangstarasta sebagai gitaris, ketika band itu baru terbentuk. Setelah membuat satu album bersama Gangstarasta, yakni Unity, ia keluar dari band itu pada 2008 karena ketidakcocokan pandangan musik. Setahun kemudian, ia membuat ROOTS.

Bersama ROOTS, Bayu diundang ke berbagai panggung di berbagai tempat. Dengan ROOTS, ia sudah tampil di berbagai daerah, antara lain, Balikpapan, Papua, Palu, Batam, Makassar, Jabodetabek, Wonosobo, kecuali Bali dan Lombok. Ia bahkan diundang manggung di luar negeri, antara lain di Thailand, Jepang, dan Hongkong, sesuatu yang belum pernah ia rasakan bersama band-bandnya sebelumnya.

Kepada generasi muda Minang, terutama yang ingin berkiprah di dunia musik, Bayu berpesan kepada mereka agar tidak menjadi pengikut musisi lain. Ia menyarankan generasi muda Minang untuk membuat sesuatu yang berbeda dari apa yang sudah ada.

Sumber Artikel: Harianhaluan.com

Saya berharap musisi muda Minang menemukan sesuatu dalam dunia musiknya,” katanya.

loading...


EmoticonEmoticon